BAB 1: Orang-Orang Terpilih

Hayalkan! Kalian adalah salah satu dari ribuan mahasiswa yang sedang menjalani hari pertama kuliah. Disana terdapat ribuan wajah-wajah asing yang tak dikenal. Dan dari semua wajah yang sempat kalian saksikan, ada aku, ada dia, dan ada mereka. Lalu, coba kau hayalkan lagi, kau tidak tahu siapa aku, tidak kenal dirinya, tidak juga mereka.

Sekarang tersenyumlah. Karena sampai buku ini selesai, kalian akan berkenalan dengan kami. Kami pun akan saling kenal. Dan yang harus kalian ingat, kita akan saling mengenal juga.

Disini ada orang pertama yang luar biasa. Dia anak laki-laki bertubuh ceking. Rambutnya berwarna coklat tua. Irisnya abu-abu. Dan dia sedang mencoba menghampiri halte pertama. Tenang saja, orang itu AKU. Kau pasti memikirkan sesuatu yang buruk tentang aku. Kau juga barang kali, pasti, memperhatikan aku. Persepsi terbesar, kau sedang menilai penampilanku, mengomentari celana jinsku, atau memandang putus asa pada kaos t-shirt yang aku pakai. Dan ketika aku dan halte bersatu, kau mengalihkan matamu pada orang yang satunya. Seseorang  yang berdiri di sampingku.

Dia adalah orang kedua, perempuan. Kau pun mulai memberinya angka-angka. Menurutmu wajahnya seperti cahaya bulan, dan senyumannya pasti telah membuatmu melupakan aku. Dengan daya tarik seperti itu, aku yakin kau membiarkannya menaiki bis pertama. Lalu kecurigaan itu terbukti.

Bis itu bergerak perlahan. Kau bergerak perlahan juga. Bersama gadis itu, bersama bayanganku yang tertinggal dan bergerak mundur. Lalu kau duduk di sisinya. Kau tetap bersikap normal, dan dengan kualitas harga diri yang kau miliki, kau mencoba bersikap sopan, pongah, dan sekaligus dewasa.

Bagaimanapun juga dia tak melihatmu. Dia hanya peduli pada orang lain yang duduk di hadapannya. Orang ketiga, laki-laki. Kau memandang jengkel orang itu. Seperti kucing kelaparan, dengan dangkal kau gambarkan ia menjadi pria kurus tinggi berkacamata yang menggunakan sabut kelapa sebagai rambut.

Kau bahkan terlalu sibuk memperhatikan pria itu. Kau hampir tak melirik pria keempat yang berdiri di halte kedua. Dan kalaupun kau mengingatnya, kau tak tahu seperti apa wajahnya. Hanya ingat warna bajunya, hanya ingat warna merahnya.

Dan kau pun tersentak. Kau sudah harus turun di halte itu. Lalu dengan kasar dan berantakan kau berhasil membuat bis pertama berhenti. Dengan semangat yang biasa, kau hampiri pria ketiga. Tapi pria itu sudah pergi. Tempat yang sama justru digantikan oleh orang baru yang berwajah bulat. Dia adalah wanita paling unik yang pernah kau jumpai. Tinggi, gemuk, dan menggunakan pakaian bermerek yang tidak ketinggalan mode. Terang saja, gadis itu adalah orang kelima.

Kau terkesan dengan caranya berdiri. Dan ketika dia bergerak, kau masih saja memandangnya. Gadis unik itu berpapasan dengan orang keenam. Dia melaju cepat dengan sepeda motornya yang jauh lebih memekakkan daripada pabrik semen.

Lalu kau mengabaikan semuanya. Kau menaiki bus nomor dua, duduk dengan tenang, dan beriringan dengan lajunya bis itu, sebuah sepeda motor lain mengikutinya. Dia pastilah orang nomor enam. Dengan keyakinan seperti itu, kau bahkan tak ragu-ragu menomori pria berikutnya yang berseragam hitam.

Ketika bus bergerak lambat, pandanganmu tertuju pada pria kedelapan. Dia adalah laki-laki super keren yang mencoba tersenyum pada belasan orang lainnya yang tidak ada di dalam daftar perjalanan.

Kepalamu terasa pusing dan berat. Kau pun berhenti mempelototi jendela. Di sisimu duduk gadis kesembilan. Menurutmu, dia adalah jenis perempuan sibuk dengan buku setebal lima senti. Kepalamu semakin memburuk. Kau tak cukup senang dengan huruf-huruf yang bergerak mendatar. Kau pasti tidak terlalu suka membaca, kau lebih suka memandang apa saja yang ada di luar jendela.

Laki-laki kesepuluh yang berdiri di halte ketiga misalnya. Perempuan kesebelas dan kedua belas yang sedang berjalan di trotoar. Laki-laki dan perempuan dua nomor berikutnya yang duduk di jok sebelah kananmu. Dan lebih banyak lagi orang-orang tak dikenal yang mencoba masuk ke kepalamu.

Ketika kau sampai di tempat tujuanmu, kau bertabrakan dengan pria kelima belas. Lalu, ketika kau mencoba merapikan benda-benda yang ia jatuhkan, dua orang teman membantumu. Mereka berdua adalah orang keenam belas dan orang ketujuh belas.

Tapi kau tak bisa mengingat lebih banyak angka lagi. Kau sudah terlalu pusing untuk mencantumkan angka pada hampir setiap orang yang kau anggap perlu. Kali ini kau mencoba memberi tanda melalui warna. Seperti pria berbaju kuning untuk angka delapan belas, gadis bersepatu coklat untuk orang kesembilan belas, dan gadis aneh berkacamata ganggang ungu di posisi selanjutnya.

Sadarlah! Tempat kau berdiri sekarang adalah gedung belajar. Maksudku, kau baru saja memasuki dunia kuliah yang abu-abu. Dimana lagi kau bisa menemukan ada begitu banyak orang yang bisa kau beri nomor punggung. Sepanjang koridor saja kau sudah berjumpa puluhan orang lagi. Si hitam, si abu-abu, si pelangi, dan si topi merah muda adalah sedikit dari mereka yang kau masukkan ke daftar hitam. Kau sudah cukup terlambat untuk memperhatikan pria kedua puluh lima yang memakai kardigan. Dan kau pun sudah cukup hati-hati untuk masuk ke ruangan kelas yang diisi oleh orang kedua puluh enam dan para koleganya dengan tiga nomor berurut. Lalu ketika dosen pertama muncul, kau akhirnya memutuskan untuk memberi label terakhir untuk gadis berpakaian feminim yang duduk di barisan bangku paling depan.

Setelah dosen pertama menyentuh papan tulis, kembalilah ke dunia nyata. Kau bukanlah salah satu dari kami. Kau bukanlah salah satu dari penghuni kelas itu. Dan pastikan juga, semua orang yang kau temui dan kau tandai hari ini, selain aku, semua orang sudah berkumpul di kelas itu. Gadis kedua, pria ketiga, dan semua yang lainnya sampai orang kedua puluh sembilan berada di dalam satu ruangan itu.

Dan tunggu! Kau tak perlu pergi begitu saja. Sekali lagi berhayallah bahwa kaulah dosen itu. Kau tentu saja masih ingat seperti apa wajah gadis kedua, sepongah apa perawakan pria ketiga, dan seunik apa penampilan orang-orang berlabel angka yang lain.

Lalu dengan enggan kau perbaiki posisi dasimu. Kau mencoba mengumumkan sesuatu. Kau memberi salam, mereka menjawab. Kau bertanya, mereka menjawab. Dan dengan perubahan yang drastis, kau langsung menjadi pusat perhatian.

Tapi, dimana aku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s